KONSEP DASAR HEPATITIS (BAB II)


BAB II
KONSEP DASAR

A.      PENGERTIAN
      Hepatitis virus merupakan suatu infeksi sistemik yang menimbulkan peradangan dan nekrosis sel hati ;  yang mengakibatkan terjadinya serangkaian kelainan klinik, biokimiawi, imuoserologik, dan morfologik (Sulaiman et all, 1997, p.253). 
      Sedangkan Hadi (1999, p.15) mengemukakan Hepatitis adalah suatu pandangan siklus pada jaringan hati yang disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksin obat-obatan serta bahan-bahan kimia yang memberikan gejala yang khas, yaitu badan panas, kencing berwarna seperti air teh pekat, mata dan seluruh badan menjadi kuning.
      Hepatitis virus dapat didefinisikan sebagai suatu infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi sel-sel hati yang menghasilkan gejala klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer dan Bare, 2002, p.1169).
      Soemoharjo (1999, p.1) mendefinisikan hepatitis sebagai suatu proses nekroinflamatorik yang mengenai sel-sel hati.  Proses tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya virus, bahan kimia, obat-obatan, alkohol, dan dapat pula disebabkan oleh karena iskemia, misalnya karena syok atau proses autoimun.

      Istilah hepatitis dipakai untuk semua peradangan pada hati (liver).  Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional.  Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, Hepatitis B, C , D, E, F, dan G.  Manifestasi penyakit hepatitis karena virus bisa akut (hepatitis A) dapat pula hepatitis kronik (hepatitis B, C) dan ada pula yang kemudian terjadi kanker hati (hepatitis B, C) (Administrator infeksi.com, 2007)
      Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa hepatitis dalah sebagai suatu bentuk peradangan pada sel-sel parenkim yang disebabkan oleh virus hepatitis sehingga menimbulkan manifestasi klinik.

B.       PENYEBAB
      Underwood (1999, p.484) berpendapat bahwa penyebab dari hepatitis yang utama baik kronis maupun akut adalah :
a.     Infeksi virus
1)   Virus hepatitis A, B, C, dan E
2)   Virus penyebab kerusakan hati, yaitu virus Epstein barr, virus demam kuning, virus herpes simplek, dan cytomegalovirus.
b.    Konsumsi alkohol yang berlebihan
c.    Reaksi atau efek samping dari obat-obatan, yaitu pemberian dosis berlebihan, misalnya : paracetamol, metylcostenon, aspirin, insoniasid, oksifenosatin.

d.   Penyakit autoimun hepar
Penyakit hepar yang disebabkan oleh autoimun adalah hepatitis lupoid yang banyak ditemukan pada wanita.  Hal ini  bisa diketahui melalui biopsy  hepar dan secara histologis ditandai dengan ditemukan gambaran hepatitis aktif dengan plasma dan bentuk rossete sel hepar.
e.    Penyakit Wilson
Merupakan kelainan autosomal resesif yang diturunkan.  Dimana tembaga di hepar dan  ganglion basal di otak, timbunan tembaga di hepar disebabkan hepatitis kronis.

C.      PATOFISIOLOGI
      Proses peradangan yang terjadi pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis, pengaruh alkohol dan oleh reaksi toksin terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia.  Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobule dan unit ini memiliki suplai darah sendiri. Berkembangnya inflamasi pada hepar menyebabkan pola normal pada hepar terganggu.  Gangguan suplai darah normal pada sel-sel hepar menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar.  Setelah melewati masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar yang baru yang sehat (Hudak dan Gallo, 1995, p.390)
      Inflamasi pada hepar karena inflamasi virus menyebabkan hipertermi dan peregangan kapsula hati.  Pada saat terjadi peregangan kapsula hati memicu timbulnya perasaan tidak nyaman  pada perut kuadran kanan atas.  Hal tersebut dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri diulu hati atau epigastrium (Price dan Wilson,1995)
      Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati.  Meski jumlah bilirubin yang belum mengalami konjugasi masuk kedalam hati tetap normal, tetapi karena ada kerusakan sel hati dan duktus empedu intra hepatis terjadilah kerusakan pengangkutan bilirubin tersebut didalam  hati selain itu, juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi.  Akibatnya bilirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktus empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin direct).  Pada feses mengandung sedikit sterkobilin, oleh karena itu tinja tampak terlihat pucat, sedangkan karena bilirubin terkonjugasi larut dalam air , maka bilirubin dapat di ekskresi ke dalm kemih dan menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap.  Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan rasa gatal-gatal (Price dan Wilson,1995).

D.      MANIFESTASI KLINIS
      Menurut Price dan Wilson (1995,p.434)manifestasi klinik hepatitis ada 2 fase yaitu fase prodormal dan ikterus.  Gejala prodormal atau gejala awal timbulnya penyakit hepatitis dapat berlangsung selama satu minggu atau lebih sebelum timbul ikterus (meskipun tidak semua penyakit hepatitis mengalami ikterus).  Gambaran utama pada masa ini adalah malaise, rasa malas, anoreksia, sakit kepala demam derajat rendah, dan hilangnya nafsu makan.  Manifestasi ekstra hepatik dan hepatitis virus dapat menyerupai sindrom penyakit serfum, dan dapat disebabkan oleh kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi.  Disamping itu dapat pula timbul perasaan tidak nyaman di kuadran  kanan atas, yang biasanya dihubungkan dengan peregangan kapsula hati.
      Setelah fase prodomal berlanjut ke fase ikterus dan awitan  ikterus. Fase ini biasanya berlangsung 4-6 minggu. Selama fase ini, biasanya penderita merasa lebih sehat. Nafsu makan kembali dan demam mereda, sementara kemih menjadi  lebih gelap dan feses memucat.
      Fase ikterus dikaitkan dengan hiperbilirubinemia, baik fraksi terkonjugasi maupun tidak terkonjugasi yang biasanya kurang dari 10mg/100ml. Kadar fosfatase akali serum biasanya normal atau sedikit meningkat.  Leukositosis ringan lazim ditemukan pada hepatitis virus, waktu protrombin dapat memanjang.
      Pada kasus yang yang tidak berkomplikasi, penyembuhan dimulai 1 atau 2 minggu setelah awitan ikterus, dan berlangsung 2-6 minggu.  Mudah lelah merupakan keluhan yang sering diajukan.  Feses dengan cepat memperoleh warnanya kembali.  Ikterus berkurang dan warna kemih menjadi lebih muda.  Bila ada splenomegali, maka akan segera mengecil. Tetapi hepatomegali baru akan kembali normal setelah beberapa minggu kemudian. Temuan laboratorium dan hasil tes fungsi hati yang abnormal dapat selama 3 hingga 6 bulan.
      Sedangkan manifestasi klinik hepatitis menurut Mansjoer (2001) dibagi menjadi stadium pra ikterus, stadium ikterus, stadium pasca ikherik, yaitu :
1.         Stadium pra ikterus
Berlangsung selam 4 hingga 7 hari, pasien biasanya mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, demam, nyeri perut kanan atas, urin menjadi coklat.
2.         Stadium ikterus
Berlangsung 3 hingga 6 minggu.  Ikterus mula-mula terluhat pada sklera, kemudian pada kulit seluruh tubuh.  Keluhan  dapat berkurang akan tetapi pasien masih merasa lemah, anoreksia dan muntah.  Tinja mungkin berwarna kelabu dan kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.
3.         Stadium pasca ikterus (rekonvalensi)
Ikterus mereda, warna  urin tinja menjadi normal lagi.  Penyembuhan pada anak-anak lebih cepat dari orang dewasa, yaitu pada akhir bulan  kedua, karena penyebab yang biasanya berbeda.

      Pemeriksaaan penunjang pada penyakit hepatitis meliputi :
1.         Tes fungsi hati
Bertujuan untuk mengkaji keadaan penyakit hati dan  untuk  membedakan antara hepatitis virus dan non virus.  Menunjukkan abnormal bila mencapai 4-10 kali dari normal.


2.         SGOT/SGPT
Bertujuan untuk mengetahui adanya kerusakan sel  hati.  Pada penderita hepatitis, awalnya akan terjadi peningkatan jumlah dan  dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterus kemudian menurun.
3.         Leukopenia
Bertujuan untuk mengetahui jumlah leukosit di dalam darah.  Mungkin juga ditemukan  adanya trombositopenia dan splenomegali.
4.         Diferensial darah lengkap
Untuk mengungkapkan banyak hal mengenai penyakit hati  maka perlu dilakukan pemeriksaan darah lengkap.  Antara lain di temukan leukositosis, monositosis, limfosit antifikal dan sel plasma.
5.         Feses
Pemeriksaan ini untuk membantu diagnosis diferensial ikterus. Biasanya ditemukan warna feses tanah liat dan steatorrhea yaitu jumlah lemak yang berlebihan yang menunjukan adanya penurunan fungsi hati.
6.         Albumin serum
Merupakan radio farmasetikal yang digunakan dalam penentuan kumpulan darah dan volume plasma.  Serta berfungsi untuk menilai fungsi hati.  Pada penderita hepatitis terjadi penurunan.




7.         Gula darah
Karena hati juga berperan dalam mengatur kestabilan kadar gula darah maka perlu dilakukan pengukuran gula darah.  Pada penderita ditemukan hiperglikemi transien atau hipoglikemia, meunjukkan terjadinya gangguan fungsi  hati.
8.         HbsAg
Dilakukan untuk menentukan adanya virus hepatitis B di dalam darah baik dalam kondisi aktif ataupun sebagai carrier.  Hasilnya dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A)
9.         Urinalisa
Untuk mengetahui apakah produk empedu masih ada dan apakah empedu sampai ke usus. Biasanya terjadi peningkatan kadar bilirubin dan protein.











F.       FOKUS PENGKAJIAN
Fokus pengkajian hepatitis menurut Doenges (2000, p.534)
1.         Aktivitas/istirahat
Gejala :  Kelemahan, kelelahan, Malaise umum
2.         Sirkulasi
Tanda :  Brakikardi (hiperbilirubinemia berat)
3.         Eliminasi
Gejala :  Urine gelap
       Diare /Konstipasi, Feses warna tanah liat
       Adanya / berulangnya hemodialisa
4.         Makanan / cairan
Gejala : Hilang nafsu makan (anoreksia), penurunan berat badan atau meningkat (edema) mual/ muntah
Tanda :  Acites
5.         Neurosensori
Tanda :  Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriksis.
6.         Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas mialgia, artralgia, sakit kepala, gatal (pruritus)
Tanda :  Otot tegang gelisah
7.         Pernafasan
Gejala :  Tidak minat/ enggan merokok (perokok)

8.         Keamanan
Gejala :  Adanya tranfusi darah/produk darah
Tanda :  Demam
       Uterotonika, lesi makulo popular, eritema tak beraturan
       Eksaserbasi jerawat
Angioma jaring-jaring, eritema palmar, ginekomastia (kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik)
Splenomegali, pembesaran nodus servikal posterior
9.         Seksualitas
Gejala :  Pola hidup/ perilaku hidup meningkatkan risiko gejala (contoh homoseksual aktif/biseksual pada wanita)

G.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.         Intoleransi aktifitas
a.         Pengertian
Intoleransi aktifitas adalah penurunan dalam kapasitas fisiologi seseorang untuk melakukan aktifitas sampai tingkat yang diinginkan atau yang dibutuhkan (Carpenito, 2001, p.2)
b.        Batasan karakteristik
Mayor :
Selama aktifitas
a)        Kelemahan
b)        Pusing
c)        Dispnea
Tiga menit setelah aktifitas
a)        Frekuensi pernafasan >24 kali per menit
b)        Frekuensi nadi > 95 kali per menit
Minor :
1)        Pucat atau sianosis
2)        Konfusi
3)        Vertigo
2.         Kekurangan volume cairan
a.         Pengertian
Kekurangan volume cairan adalah keadaan dimana seseorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau berisiko mengalami dehidrasi vaskuler, interstisial atau intravaskuler (Carpenito, 2001, p.139)
b.        Batasan karakteristik
Mayor :
1)        Ketidakcukupan masukan cairan oral
2)        Keseimbangan negatif antara masukan dan haluaran
3)        Penurunan berat badan
4)        Kulit/membran mukosa kering
Minor :
1)        Peningkatan natrium serum
2)        Penurunan urine atau haluaran urine berlebihan
3)        Urine memekat atau sering berkemih
4)        Penurunan turgor kulit
5)        Haus/mual/anoreksia
3.         Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
a.         Pengetian
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan  tubuh adalah suatu keadaan dimana individu  yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami penurunan berat  badan yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrient yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik (Carpenito, 2001, p.259)
b.        Batasan karakteristik
Mayor :
Individu yang tidak puasa melaporkan atau mengalami masukan makanan yang tidak adekuat kurang dari yang dianjurkan dengan atau tanpa  penurunan berat badan atau kebutuhan metabolik awal atau potensial dalam  masukan  yang  berlebihan.
Minor :
1)        Berat badan 10% sampai 20% atau lebih di bawah berat badan  ideal untuk  tinggi dan kerangka tubuh.
2)        Lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah dan lingkar otot pertengahan lengan kurang dari 60% standar pengukuran.
3)        Kelemahan otot dan nyeri tekan
4)        Peka rangsang mental dan kekacauan mental
5)        Penurunan albumin serum
6)        Penurunan transferin serum, atau penurunan kapasitas ikatan besi
4.         Nyeri
a.         Pengertian
Nyeri adalah keadaan dimana individu mengalami atau melaporkan adanya  rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan (Carpenito, 2001, p.45)
b.        Batasan karakteristik
Mayor :
Komunikasi verbal atau penggunaan kode tentang nyeri yang dideskripsikan.
Minor :
1)        Mengantupkan rahang atau pergelangan tangan
2)        Perubahan kemampuan untuk melanjutkan aktifitas sebelumnya.
3)        Agitasi
4)        Ansietas
5)        Peka rangsang
6)        Mengosok bagian yang nyeri
7)        Mengorok
8)        Postur tidak biasanya (lutut ke abdomen)
9)        Ketidakaktifan fisik atau imobilitas
10)    Masalah dengan konsentrasi
5.         Hipertermi
a.         Pengertian
Hipertermi adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami atau berisiko untuk mengalami kenaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari 37,8º C (101ºF) per oral karena faktor eksternal (Carpenito, 2001, p.21)
b.        Batasan karakteristik
Mayor :
1)        Suhu lebih tinggi dari 37,8º C (100ºF) per oral atau 38,8º C (101ºF) per rektal
2)        Kulit hangat
3)        Takikardi
Minor :
1)        Kulit kemerahan
2)        Peningkatan kedalaman pernafasan
3)        Menggigil dan merinding
4)        Perasaan hangat atau  dingin
5)        Nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal: sakit kepala)
6)        Malaise, keletihan, kelemahan
7)        Kehilangan nafsu makan
8)        Berkeringat


6.         Perubahan kenyamanan
a.         Pengertian
Perubahan kenyamanan adalah keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam suatu rangsangan  yang berbahaya (Carpenito, 2001, p.42)
b.        Batasan  karakteristik
Mayor :
Individu memperlihatkan atau melaporkan ketidaknyamanan.
Minor :
1)        Respon autonom pada nyeri akut
2)        Tekanan darah meningkat
7.         Kurang perawatan diri
a.         Pengertian
Keadaan dimana individu mengalami kegagalan kemampuan untuk melaksanakan atau menyelesaikan mandi atau aktivitas kebersihan untuk diri sendiri ( Carpenito, 2001, p.334)
b.        Batasan karakteristik
1)        Kurang mandi sendiri  meliputi membasuh keseluruhan tubuh, menyisir rambut, menggosok gigi, melakukan perawatan kulit dan kuku serta menggunakan tata rias
2)        Tidak  dapat  atau tidak ada keinginan untuk membasuh  tubuh atau bagian tubuh.
3)        Tidak dapat untuk mengatur suhu  atau aliran air
4)        Tidak dapat mendapatkan suatu atau sumber air.
8.         Kurang pengetahuan
a.         Pengertian
Suatu keadaaaan dimana seseorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilan –keterampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan (Carpenito, 2001, p.223)
b.        Batasan karakteristik
Mayor :
1)        Mengungkapkan kurang pengetahuan, ketrampilan atau permintaan informasi.
2)        Mengekspresikan atau ketidakakuratan persepsi status kesehatan.
3)        Melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan.
Minor :
1)        Kurang integrasi tentang rencana pengobatan ke dalam aktifitas sehari-hari
2)        Memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologi (misal: ansietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi)


H.      FOKUS INTERVENSI
1.         Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan kekuatan atau ketahanan (Doenges, 2000, p.536)
Kriteria hasil :
Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktifitas.
Intervensi :
a.         Tingkatkan tirah baring, beri lingkungan tenang dan batasi pengunjung sesuai keperluan.
Rasional : meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi yang digunkan untuk penyembuhan.
b.        Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik
Rasional : meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan risiko kerusakan jaringan.
c.         Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif atau aktif.
Rasional : tirah baring lama dan menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
d.        Ajarkan orang terdekat dalam Activity Daily Living (ADL) pasien.
Rasional :  membantu memenuhi kebutuhan klien.


e.         Dorong penggunaan teknik manajemen stress.
Rasional : meningkatkan relaksasi dan penghematan energi memusatkan kembali perhatian dan dapt meningkatkan koping.
f.         Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hepar
Rasional : menunjukan kurangnya resolusi atau eksaserbasi penyakit memerlukan istirahat lanjut, menganti program terapi.
g.        Kolaborasi untuk pemberian antidot dan  obat sesuai indikasi.
Rasional : membuang agen penyebab pada hepatitis toksik dapat membatasi derajad kerusakan jaringan
2.         Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual/muntah, kehilangan sekunder akibat demam (Doenges, 2000,p.525)
Kriteria hasil :
Menunjukkan keseimbangan cairan adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, membran  mukosa lembab, turgor kulit  baik, pengisian kapiler baik, secara individu mengeluarkan urine cukup, dan tak ada muntah.
Intervensi :
a.         Pertahankan masukan dan haluaran akurat, perhatikan haluaran kurang dari masukan, peningkatan berat jenis urine. Kaji membran mukosa/kulit, nadi perifer, dan pengisian kapiler.
Rasional : memberikan informasi tentang status cairan /volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian.
b.        Awasi tanda/gejala peningkatan mual/muntah, kram abdomen, kelemahan,kejang, kejang ringan, kecepatan jantung tidak teratur, parestesia, hipoaktif atau tidak adanya bising usus, depresi pernafasan.
Rasional : muntah berkepanjangan, aspirasi gaster, dan pembatasan pemasukan oral dan dapat menimbulkan defisit natrium, kalium dan klorida.
c.         Lakukan kebersihan oral dengan pencuci  mulut.
Rasional : menurunkan kekeringan  membran mukosa, menurukan resiko perdarahan oral.
d.        Kaji perdarahan yang tidak biasanya
Rasional :   darah menurun  dan waktu koagulasi memanjang bila aliran empedu terhambat,meningkatkan risiko perdahan/hemoragi.
3.         Ketidakseimbangan nutrisi kurang  dari kebutuhan  tubuh berhubungan dengan mual/muntah, gangguan pencernaan lemak sekunder terhadap sirkulasi empedu (Doenges,2000,p.526)
Kriteria hasil
a.         BB ± 10-15 % dari BB ideal
b.        Nilai laboratorium dalam batas normal (kadar  gula darah , protein  total, albumin dan globulin Hb)
c.         Menghabiskan porsi diet yang  diberikan.




Intervensi :
a.         Awasi pemasukan diet dan jumlah kalori. Beri makan sedikit dalam frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar.
Rasional : makan dalam porsi banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia paling buruk selama siang hari.membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari.
b.        Beri perawatan mulut sebelum makan
Rasional ; menghilangkan rasa tidak enak dapat meningkatkan nafsu makan.
c.         Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional : menurunkan  rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
d.        Dorong pemasukan sari jeruk, minum karbonat dan permen sepanjang hari.
Rasional : bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna atau toleran bila makanan lain tidak enak.
e.         Catat adanya keluhan mual dan muntah, perasaan mudah kenyang anoreksia.
f.         Jelaskan pada klien tentang manfaat intake nutrisi yang adekuat bagi kesembuhannya.


g.        Libatkan klien dalam perencanaan diri bersama ahli diet (jumlah kebutuhan dan variasi menu)
Rasional : berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi kebutuhan individu
h.        Kolaborasi pemberian obat-obatan  sesuai indikasi (antiemetik, antisida, penambah nafsu makan, suplemen dan vitamin)
i.          Kaji distensi abdomen, sering bertahak, berhati-hati, menolak bergerak.
Rasional : tanda nonverbal ketidaknyamanan berhubungan dengan gangguan pencernaan, nyeri gaster.
j.          Perkirakan/hitung pemasukan kalori. Jaga komentar tentang nafsu  makan sampai minimal.
Rasional : mengidentifikasi kekurangan /kebutuhan nutrisi. Berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.
k.        Timbang sesuai indikasi
Rasional : mengawasi keefektifan secara diit.
l.          Berikan suasana menyenangkan pada saat makan, hindari rangsang berbau.
Rasional : untuk meningkatkan nafsu makan.


4.         Nyeri berhubungan dengan pembengkakan hepar, yang mengalami inflamasi (Carpenito, 2001, p.43)
Kriteria hasil :
a.         Klien tampak rileks
b.        Melaporkan tidak adanya nyeri
c.         Klien merasa nyaman
Intervensi :
a.         Kaji karakteristik nyeri
b.        Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
Rasional : nyeri yang berhubungan dengan kapasitas sangat tidak nyaman , oleh karena terdapat peregangan kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
c.         Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri.  Akui adanya nyeri.  Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya.
Rasional :  Klien harus mencoba meyakinkan pemberi pelayan kesehatan bahwa ia mengalami nyeri.
d.        Berikan informasi akurat dan jelaskan penyebab nyeri.  Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir bila diketahui.
Rasional :  klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan cenderung lebih tenang dibanding klien yang kurang penjelasan atau yang tidak mendapat penjelasan.
e.         Kolaborasi pemberian analgetik tidak mengandung efek hepatotoksik.
f.         Catat respon pasien terhadap obat, dan laporkan pada dokter bila nyeri hilang.
Rasional :  nyeri berat yang tidak hilang dengan tindakan rutin dapat menunjukkan terjadinya komplikasi/kebutuhan terhadap intervensi lebih lanjut.
g.        Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman.
Rasional :  tirah baring pada posisi fowler rendah menurunkan tekanan intra abdomen, namun pasien akan melakukan posisi yang menghilangkan nyeri secara alamiah.
h.        Dorong menggunakan teknik relaksasi.
Rasional :  meningkatkan istirahat, memusatkan kembali perhatian, dapat meningkatkan koping.
i.          Kolaborasi obat sesuai indikasi
5.         Hipertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar (Carpenito, 2000, p.21)
Kriteria hasil :
a.         Suhu badan 36-37° C.
b.        Pasien tidak merasa haus.
c.         Pasien tidak mengeluh demam.
Intervensi :
a.         Monitor tanda vital, terutama suhu badan
Rasional :  sebagai indikator untuk mengetahui status hipertermi
b.      Ajarkan pasien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 ml per hari) untuk mencegah dehidrasi.
Rasional :  dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi.
c.       Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur
Rasional :  dengan pemberian kompres air hangat pembuluh-pembuluh darah melebar sehingga akan memperbaiki peredaran darah di dalam jaringan tersebut.
d.      Anjurkan pasien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat
Rasional :  kondisi kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur.  Juga akan mengurangi kenyaman klien, mencegah timbulnya ruam kulit.
e.       Kolaborasi pemberian antipiretik
6.         Perubahan kenyamanan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu (Carpenito, 2001, p.42)
Kriteria hasil :
a.         Tidak ada pruritus atau rasa gatal
b.        Integritas kulit baik
Intervensi :
a.         Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering
Rasional :  kekeringan meningkatkan sensitifitas kulit dengan merangsang ujung saraf.
b.        Cegah penghangatan berlebihan
Rasional :  penghangatan yang berlebihan menambah pruritus dengan meningkatkan sensitivitas melalui vasodilatasi.
c.         Anjurkan untuk tidak menggaruk
Rasional :  penggarukan merangsang pelepasan hidramin, menghasilkan lebih banyak pruritus.
d.        Pertahankan kelembaban ruangan
Rasional :  pendinginan akan menurunkan vasodilatasi dan kelembaban kekeringan.
7.         Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (Carpenito, 2001, p.336)
Kriteria hasil :
a.         Klien mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene dengan bantuan minimal
b.        Muka, rambut, dan gigi tampak bersih
c.         Klien merasa nyaman



Intervensi :
a.         Kaji derajat mobilisasi klien
Rasional :  untuk mengetahui kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya.
b.        Motivasi klien untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri
Rasional :  meningkatkan kemandirian klien.
c.         Libatkan keluarga dalam perawatan diri
Rasional :  keluarga mampu memenuhi kebutuhan klien.
d.        Bantu klien dalam memenuhi personal hygiene
Rasional :  meningkatkan kepercayaan diri dan kenyamanan klien.
8.         Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.  (Carpenito, 2001, p.223)
Kriteria hasil :
a.         Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan
b.        Mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala penyakit dan hubungan gejala dengan faktor penyebab
c.         Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan
Intervensi :
a.         Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan dan kemungkinan pilihan pengobatan
Rasional :  mengidentifikasi kurang pengetahuan dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi yang sesuai keperluan.

b.      Bantu klien mengidentifikasi aktivitas pengalih
Rasional :  aktivitas yang dapat dinikmati akan membantu pasien menghindari pemusatan pada penyembuhan panjang.
c.       Beri informasi khusus tentang pencegahan penularan penyakit, tekankan perlunya cuci tangan, hindari kontak umum
Rasional :  kebutuhan informasi klien terpenuhi.

No comments:

Post a Comment