LAPORAN PENDAHULUAN DEMENSIA



A.    Pengertian
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Demensia ialah kondisi keruntuhan kemampuan intelek yang progresif setelah mencapai pertumbuhan & perkembangan tertinggi (umur 15 tahun) karena gangguan otak organik, diikuti keruntuhan perilaku dan kepribadian, dimanifestasikan dalam bentuk gangguan fungsi kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan pembentukan pikiran konseptual ( http ://askep-askeb- kita.blogspot.com/ )
Dimensia merupakan sindroma yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran ( Kusuma, 1997). Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian ( Behavioral Symptom) yang mengganggu ( destruptif ) ataupun tidak mengganggu ( non destruptif) ( http://www.komnaslansia.or.id/ mengenal demensia pada lanjut usia, 2007).
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat dikemukakan bahwa demensia adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan daya ingat sehingga meyebabkan disfungsi hidup sehari-hari.

B.     Etiologi
Penyebab demensia menurut ( http://www.mitrakeluarga.com/ demensia, 2008) yaitu :
1.      Penurunan fungsi otak
2.      Parkinson
3.      Tumor
4.      Stroke
5.      Alzheimer
6.      Penyakit pada jaringan pembuluh otak
Menurut Darmojo (1999) penyebab demensia yaitu :
1.      Keadaan yang secara potensial reversible atau bisa dihentikan
a.       Intoksikasi ( obat, termasuk alkohol dan lain-lain)
b.      Infeksi susunan saraf pusat
c.       Gangguan metabolik
d.      Gangguan nutrisi
e.       Gangguan vaskuler
f.       Lesi desak ruang
g.      Hidrosefalus bertekanan normal
h.      Depresi
2.      Penyakit degeneratif progesif
a.       Tanpa gejala neurologik lain
1)      Penyakit Alzheimer
2)      Penyakit Pick
b.      Dengan gangguan neurologik yang prominen
1)      Penyakit Parkinson
2)      Penyakit Huntington
3)      Kelumpuhan supranuklear progesif
4)      Penyakit degeneratif lain yang jarang didapat
Menurut Yatim ( 2003), penyebab pikun antara lain:
1.       Tumor
2.       Trauma
3.       Infeksi kronis
4.       Kelainan jantung dan pembuluh darah
5.       Kelainan kongenital
6.       Penyakit Psikiatri
7.       Kelainan faali
8.       Kelainan metabolik
9.       Kerusakan sel-sel otak
10.  Obat-obatan dan racun

C.     Manifestasi Klinis
1.      Tanda
Tanda dari demensia menurut (http://www.mitrakeluarga.com/ demensia, 2008) antara lain:
a.       Bicara tidak nyambung
b.      Daya ingat menurun
c.       Pengetahuan tentang diri dan lingkungan menurun
d.      Emosi labil ( cepat marah dan cepat berubah)
Dengan bertambahnya usia, kemampuan memori menurun secara wajar. Ciri-ciri mudah lupa antara lain :
a.       Mudah lupa nama benda, nama orang dan sebagainya
b.      Terdapat gangguan dalam mengingat kembali atau recall
c.       Terdapat gangguan dalam mengambil kembali informasi yang telah tersimpan dalam memori
d.      Tidak ada gangguan dalam mengenal kembali sesuatu, apabila diberi isyarat.
e.       Lebih sering menjabarkan bentuk atau fungsi daripada menyebutkan namanya
2.      Gejala
Gejala demensia menurut Christopher ( 2002) yaitu :
a.       Kehilangan ingatan
Gejala ini merupakan gejala umum dari demensia, dan ingatan mengenai kejadian-kejadian baru yang pertama-tama terkena dampaknya. Kemampuan untuk menyimpan informasi baru mengalami kemunduran karena perubahan dalam otak yang terjadi
b.      Disorientasi
Hilangnya kemampuan untuk mengarahkan diri pada tujuan atau waktu tertentu. Banyak penderita demensia menunjukkan tanda disorientasi, dimana mereka berada dan kadang keluyuran keluar rumah dan tersesat.
c.       Perubahan kepribadian dan perilaku
Kepribadian pada sebagian penderita tampak tetap sama tapi yang lainnya menunjukkan perubahan yang menyolok. Penarikan diri secara sosial dan hilangnya minat terhadap kegiatan merupakan hal biasa. Mereka cenderung menjadi pendengki dan cemas.
d.      Kehilangan kemampuan praktis
Sulit berkonsentrasi adalah salah satu ciri demensia. Para penderita mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah.
e.       Kesulitan berkomunikasi
Pada tahap awal demensia orang mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat untuk diucapkan. Kemampuan nonverbal seperti sentuhan dan ekspresi wajah sangat penting untuk merawat orang yang mengalami demensia.
    
Pada umumnya gejala yang tampak pada demensia menurut( http://www.e-psikologi.com/ gangguan psikologi dan perilaku pada dimensia, 2002) yaitu :
a.     Terganggunya fungsi daya ingat yang makin berat terutama daya ingat jangka pendek.
Ingatan masa lalu masih tetep baik dan bertahap.
b.    Terganggunya fungsi berpikir antara lain: afasia, apraksia, aknosia, atau gangguan
fungsi eksekutif.
c.     Penurunan fungsi daya ingat dan daya pikir menimbulkan gangguan fungsi kehidupan
sehari-hari.
d.    Makin lama gangguan yang terjadi semakin berat

D.    Psikophatologi Dimensia
Demensia cukup sering dijumpai dalam lansia. Gangguan demensia dimanifestasikan dengan defisit kognitif multipel seperti gangguan memori, afasia ( kehilangan kemampuan berbicara, kemampuan menulis atau pemahaman bahasa akibat penyakit pada otak ). Gangguan memori mungkin pertama kali disadari ketika kehilangan atau salah menempatkan barang-barang pribadi. Jika gangguan memori memburuk, seseorang dapat melupakan namanya sendiri, hari ulang tahun, atau nama-nama anggota keluarganya. Kemampuan dalam memahami pembicaraan atau bahasa tertulis menjadi menurun. Pada demensia tahap lanjut, individu dapat menjadi bisu atau membentuk pola pembicaraan, kesulitan dalam melaksanakan aktivitas motorik. ( Lumbantobing, 2001).
Demensia ada beberapa macam diantaranya demensia Alzheimer dan demensia multi infark. Pada demensia Alzheimer terdapat penurunan neurotransmiter tertentu terutema acetilkolin. Area otak yang terkena adalah korteks cerebral dan hipotalamus, keduanya merupakan bagian penting dalam fungsi kognitif dan memori. Acetilkolin dan neurotransmiter merupakan zat kimia yang diperlukan untuk mengirim pesan melalui sistem saraf. Defisit neurotransmiter menyebabkan pemecahan proses komunikasi yang kompleks diantara sel-sel pada sistem saraf. Sedangkan demensia multi infark terjadi pada pasien yang menderita penyakit cerebrovaskuler ( Standley, 2006).
Gangguan fungsi luhur terlihat dalam bentuk kehilangan kemampuan untuk berpikir abstrak. Terdapat ketidakmampuan dalam merencanakan, mengurutkan, dan menghentikanperilaku yang kompleks. Individu demensia mengalami disorientasi tempat, waktu, dan orang atau menunjukkan penurunan daya nilai dan keterbatasan atau sama sekali tidak memiliki pemahaman sehingga dapat terjadi perubahan proses pikir.
Pasien demensia seringkali terdapat gangguan berjalan yang menyebabkan klien terjatuh. Dan hal ini dapat memunculkan masalah resiko trauma atau cedera. Beberapa orang menunjukkan cemas, depresi, atau mengalami gangguan tidur. Individu yang mengalami demensia sangat rentan terhadap stresor fisik dan stresor psikososial yang memperburuk defisit kognitif serta masalah-masalah lain.
 
 
E.     Pathway

Lansia
Parkinson
Alzheimer

Degeneratif
 

Penurunan fungsi otak
 

Melemahnya fungsi Organik

Termor
 

Perubahan cara berjalan
 

Kelemahan
 

Resiko terjatuh

Kematian sel neuron
 

Stroke
 

Penurunan neurotrnsmiter
MK : Resiko Cedera
Kemunduran
Intelektual
 

Defisit Kognitif Multipel
Disintegrasi kepribadian
 

Perubahan perilaku
Defisit neurotransmiter dan Acetilkolin
 

Pemecahan proses komunikasi antara sel

Gg. Memori

Sulit mengingat kembali, mengambil keputusan, bertindak lebih lamban
 

MK : Intoleransi Aktivitas
Berkurangnya kemampuan fungsi sehari-hari
Depresi

Lebih sensitif
 

Menarik diri

Isolasi Sosial

MK : Gangguan Persepsi Sensori
Tidak dapat melakukan aktivitas mandiri

halusinasi








Gg.Komunikasi
 

Disfungsi pada visual dan auditorius



 


Disorientasi
 

MK : Gangguan Proses Pikir
Penurunan daya nilai
Demensia

Penurunan daya ingat

Tidak mampu berpikir abstrak


MK : Defisit Perawatan Diri
Degenerasi
progresif korteks
cerebral

Kekecauan Mental Kronis
 
Pathway Demensia dikembangkan dari : Copel ( 2007), Towsend ( 1998) ,



F.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada demensia menurut Wilkinson ( 2006) yaitu :
1.      Perubahan proses pikir
a.       Definisi
Suatu kondisi gangguan aktivitas dan kerja kognitif ( misalnya pikiran sadar, orientasi realita, pemecahan masalah, dan penilaian) yang terjadi pada individu.
b.      Batasan karakteristik
1)      Subjektif
a)      Ketidaksesuaian kognitif
b)      Interpretasi lingkungan tidak akurat
c)      Ketidaksesuaian pemikiran yang tidak berdasarkan realita
2)      Objektif
a)      Distraktibilitas
b)      Egosentris
c)      Kewaspadaan berlebihan atau kurang sama sekali
d)     Defisit/masalah memori
2.      Perubahan persepsi sensori
a.       Definisi
Keadaan seorang individu yang mengalami sutau perubahan pada jumlah atau pola stimulus yang diterima, dikuti dengan suatu respon terhadap stimulus yang dihilangkan, dilebihkan, disimpangkan, atau dirusakkan.
b.      Batasan karakteristik
1)      Subjektif
a)      Distorsi pendengaran
b)      Melaporkan adanya perubahan dalam ketepatan sensori
c)      Distorsi penglihatan
2)      Objektif
a)      Perubahan pola komunikasi
b)      Perubahan perilaku
c)      Perubahan kemampuan menyelesaikan masalah
d)     Perubahan respon yang biasanya terhadap stimulus
e)      Disorientasi waktu, tempat, orang
f)       Halusinasi
g)      Iritabilitas
h)      Perubahan ketepatan sensori yang dapat diukur
i)        Kurang konsentrasi
j)        Gelisah



3.      Resiko cedera
a.       Definisi
Suatu kondisi individu yang beresiko untuk mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang berhubungan dengan sumber-sumber adaptif dan perubahan
b.      Faktor resiko
1)      Internal:
a)      Disfungsi sensori
b)      Usia perkembangan (fisiologi dan psikososial)
c)      Penyakit imun/autoimun
d)     Disfungsi integratif
e)      Malnutrisi
f)       Psikologis ( orientasi afektif)
4.      Intoleransi aktivitas
a.       Definisi
Suatu kondisi individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
b.      Batasan karakteristik
1)      Subjektif
a)      Ketidaknyamanan
b)      Melaporkan keletihan atau kelemhan secara verbal
2)      Objektif
a)      Tekanan darah tidak normal sebagai akibat terhadap aktivitas
b)      Perubahan EKG
5.      Defisit perawatan diri
a.       Definisi
Suatu keadaan seseorang yang mengalami gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri.
b.      Faktor yang berhubungan
1)      Depresi
2)      Ketakutan akan ketergantungan
3)      Ketidakberdayaan
6.      Kekacauan Mental Kronis
a.       Definisi
Suatu keadaan dimana individu mengalami kemunduran intelektual dan kepribadian yang tak dapat pulih berlangsung lama, dan atau progresif ( Carpenito, 1998)
b.      Faktor yang Berhubungan
1)      Degenerasi progresif dari korteks cerebral
2)      Gangguan metabolisme cerebral


G.    Pengkajian Fokus
1.      Pengkajian Riwayat Kesehatan
a.       Identitas/Data Biografis Klien
b.      Riwayat Keluarga
c.       Riwayat Pekerjaan
d.      Riwayat Lingkungan Hidup
e.       Riwayat Rekreasi
f.       Sistem Pendukung
g.      Kebiasaan Ritual
h.      Status Kesehatan Saat Ini
i.        Status Kesehatan Masa Lalu
j.        Tinjauan Sistem
Kaji ada tidaknya tanda-tanda/setiap gejala berikut ini:
1)      Keadaan Umum
Kelelahan, perubahan BB setahun lalu, perubahan nafsu makan, demam, keringat malam, kesulitan tidur, sering pilek dan infeksi, penilaian diri terhadap status kesehatan, kemampuan melakukan ADL, tingkat kesadaran(kualitatif,kuntitatif), TTV.
2)      Integument
Lesi/luka, perubahan pigmentasi, perubahan tekstur, perubahan nevi, sering memar, perubahan rambut, perubahan kuku, katimumul pada jari kaki dan kallus, pola penyembuhan lesi dan memar, elastisitas/turgor.
3)      Hemopoetik
Perdarahan/memar abnormal, pembengkakan kelenjar limfe, anemia, riwayat transfusi darah. 
4)      Kepala
Sakit kepala, trauma pada masa lalu, pusing, gatal kulit kepala, lesi/luka.
5)      Mata
Perubahan penglihatan, pemakaian kaca mata/lensa kontak, nyeri, air mata berlebihan, pruritus, bengkak sekitar mata, floater, diplopia, kabur, fotofobia, riwayat infeksi, tanggal pemeriksaan paling akhir, dampak pada penampilan ADL>
6)      Telinga
Perubahan pendengaran, rabas, titinus, vertigo, sensitivitas pendegaran, alat-alat protesa, riwayat infeksi, tanggal pemeriksaan paling akhir, kebiasaan perawatan telinga, dampak penampilan pada ADL.
7)      Hidung dan Sinus
Rinorea, rabas, epistaksis, obstruksi, mendengkur, nyeri pada sinus, alergi, riwayat infeksi, penilaian diri pada kemampuan olfaktorius.
8)      Mulut dan Tenggorok
Sakit tenggorakan, lesi/ulkus, serak, perubahan suara, kesulitan menelan, perdarahan gusi, karies, alat-alat protesa, riwayat infeksi, tanggal pemeriksaan akhir, pola menggosok gigi, pola flossing, masalah dan kebiasaan membersihkan gigi palsu.
9)      Leher
Kekakuan, nyeri/nyeri tekan, benjolan/massa, keterbatasan gerak, pembesaran kelenjar thyroid.
10)  Payudara
Benjolan/massa, nyeri/nyeri tekan, bengkak, keluar cairan dari puting susu, perubahan pada puting susu, pola pemeriksaan payudara, tanggal momografi paling akhir.
11)  Pernapasan
Batuk, sesak napas, hemoptisis, sputum, mengi, asma/alergi pernapasan, frekuensi, auskultasi, palpasi, perkusi, wheezing.
12)  Kardiovaskuler
Nyeri/ketidaknyamanan dada, palpitasi, sesak napas, dispnea pada aktivitas, ortopnea, murmur, edema, varises, kaki timpang, parestesia, perubahan warna kaki.
13)  Gastrointestinal
Disfagia, tak dapat mencerna, nyeri ulu hati, pembesaran hepar, mual/muntah, hematesis, perubahan nafsu makan, intoleransi makanan, ulkus, nyeri, ikterik, benjolan/massa, perubahan kebiasaan defekasi, diare, kontipasi, melena, hemoroid, perdarahan rektum, pola defekasi biasanya.
14)  Perkemihan
Disuria, frekuensi, menetes, ragu-ragu, dorongan, hematuria, poliuria, oliguria, nokturia, inkontinensia, nyeri saat berkemih, batu, infeksi.
15)  Genitor Reproduksi - Pria
Lesi, rabas, neri tekstuler, masalah prostat, penyakit kelamin, perubahan hasrat seksual, impotensi, masalah aktivitas seksual.
16)  Genitor Reproduksi – Wanita
Lesi rabas, dispareunia, perubahan pasca senggama, nyeri pelvik, penyakit kelamin, infeksi, maslah aktivitas seksual, riwayat menstruasi, tanggal dan hasil papsmear terakhir.
17)  Muskuloskeletal
Nyeri persendian, kekakuan, pembengkakan sendi, deformitas, spasme, kram, kelemahan otot, maslah cara berjalan, nyeri punggung, protesa, pola kebiasaan latihan, dampak pada penampilan ADL.
18)  Sistem Saraf Pusat
Sakit kepala, kejang, sinkope, paralisis, paresis, masalah koordinasi, tic/tremor/spasme, parestesia, cedera kepala, maslah memori.
19)  Sistem Endokrin
Intoleransi panas/dingin, goiter, pigmentasi kulit, perubahan rambut, polifagia, poliuria, polidpsia.
20)  Sistem Imun
Kerentanan dan seringnya terkena penyakit, imunisasi.
21)  Sistem Pengecapan
Berkurangnya rasa asin dan panas.
22)  Sistem Penciuman
Peningkatan sistem penciuman.
23)  Psikososial
Cemas, depresi, insomnia, menangis, gugup, takut, masalah dalam mengambil keputusan, kesulitan berkonsentrasi, pernyataan perasaan umum mengenai keputusan/frustasi mekanisme koping yang biasa, stres saat ini, masalah tentang kematian dan kehilangan, dampak penampilan ADL.
2.      Pengkajian Status Fungsional, Kognitif, Afektif dan Sosial
a.       Pengkajian Status Fungsional
Indeks kemandirian pada aktivitas kehidupan sehari-hari berdasarkan pada evaluasi fungsi mandiri atau tergantung dari klien dalam mandi, berpakaian, pergi ke kamar mandi, berpindah, kontinen dan makan.
INDEKS KATZ
SKORE
KRITERIA
A
Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil, berpakaian dan mandi.
B
Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali satu dari fungsi tersebut.
C
Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi dan satu fungsi tambahan.
D
Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan.
E
Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecali mandi, berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan.
F
Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, berpakaian, berpindah dan satu fungsi tambahan.
G
Ketergantungan pada enam fungsi tersebut.
Lain-lain
Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai C, D, E, F dan G.

b.      Pengkajian Status Kognitif dan Afektif
1)      Menggunakan Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ) untuk mendeteksi adanya dan tingkat kerusakan intelektual, terdiri dari 10 hal yang mengetes orientasi, memori dalam hubungannya dengan kemampuan perawatan diri, memori jauh, kemampuan matematis. 
2)      Menggunakan Mini Mental State Exam (MMSE) untuk menguji aspek-aspek kognitif dari fungsi mental meliputi orientasi, registrasi, perhatian, kalkulasi, mengingat kembali dan bahasa.
3)      Menggunakan Inventaris Depresi Beck untuk membedakan jenis depresi serius yang mempengaruhi fungsi-fungsi dari suasana hati rendah umum pada banyak orang.
4)      Mengguanakan Skala Depresi Geriatrik Yesavage untuk menilai depresi lansia.
c.       Pengkajian Status Sosial
Status sosial lansia dapat diukur dengan menggunakan APGAR Keluarga. Penilaian jika pertanyaan-pertanyaan yang dijawab selalu (poin 2), kadang-kadang (poin 1), hampir tidak pernah (poin 0).
APGAR Keluarga
No.
Fungsi
Uraian
Skore
1.
Adaptasi
Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (temann-teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu menyusahkan saya

2.
Hubungan
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapakan masalah dengan saya

3.
Pertumbuhan
Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya menerima dan mendukung saya untuk melakukan aktifitas atau arah baru

4.
Afeksi
Saya puas dengan keluarga (teman-teman) saya mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi saya, seperti marah, sedih atau mencintai

5.
Pemecahan
Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya menyediakan waktu bersama-sama


H.    Fokus Intervensi
Menurut Townsend ( 1998)
1.      Perubahan proses pikir
a.       Orientasikan pasien lebih sering kepada realitas dan sekelilingnya.
b.      Ajarkan calon pemberi perawatan bagaimana mengorientasikan waktu, tempat, dan keadaan – keadaan sesuai dengan kebutuhan.
c.       Berikan umpan balik positif bila pikiran dan perilaku tepat atau bila pasien mengungkapkan bahwa ide yang diekspresikan tidak didasarkan pada realitas.
d.      Gunakan penjelasan sederhana dan interaksi, saling berhadapan bila berkomunikasi dengan pasien.
e.       Jangan biarkan memikirkan ide-ide yang salah dengan berbicara keadaan nyata.
f.       Observasi ketat terhadap perilaku pasien yang diindikasikan.
2.      Perubahan persepsi sensori
a.       Kurangi jumlah rangsang pada lingkungan pasien ( misalnya kebisingan rendah, sedikit orang, dekorasi sederhana).
b.      Pertahankan realitas melalui reorientasi dan fokus pada situasi-situasidan orang- orang yang sebenarnya.
c.       Berikan jaminan terhadap keselamatan jika pasien memberikan respon dengan rasa takut terhadap persepsi yang tidak akurat.
d.      Perbaiki dekripsi pasien pada persepsi yang tidak akurat, dan uraikan situasinya yang realitas.
e.       Berikan perasaan aman dan stabilitas pada lingkungan pasien dengan memungkinkan perawatan diberikan oleh petugas yang sama secara teratur.
f.       Ajarkan calon pemberi perawatan bagaimana mengetahui tanda- tanda dan gejala ketidakakuratan persepsi sensori pada pasien.
3.      Resiko cedera
a.       Kaji tingkat disorientasi atau kebingungan pasien untuk menurunkan kebutuhan keamanan.
b.      Dapatkan riwayat obat-obatan ( jika mungkin)
c.       Tempatkan pasien pada ruangan yang tenang dan tersendiri.
d.      Lakukan kewaspadaan keamanan
e.       Orientasikan pasien lebih sering pada realitas dan hal- hal di sekelilingnya
f.       Pantau tanda-tanda vital
4.      Intoleransi aktivitas
a.       Pantau HR, irama, dan perubahan TD sebelum, selama dan sesudah aktivitas sesuai indikasi.
b.      Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas
c.       Bantu aktivitas sesuai dengan keadaan klien dan jelaskan pola peningkatan aktivitas bertahap.

5.      Defisit perawatan diri
a.       Perhatikan berat/durasi ketidaknyamanan
b.      Berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan higiene.
c.       Ubah posisi klien tiap 1-2 jam, bantu dalam latihan paru, ambulasi dan latihan kaki.
6.      Kekacauan Mental Kronis
a.    Kaji sikap-sikap kekacauan mental pada diri klien
b.    Pertahankan perawatan yang menghargai
c.    Anjurkan kepada keluarga untuk berbicara lambat dengan suara jelas
d.   Orientasikan klien pada waktu dan tempat
e.    Diskusikan kejadian yang sedang berlangsung, kejadian musiman
f.     Hindari berdebat dengan klien

DAFTAR PUSTAKA

Christopher, M . 2007. Pikun dan Pelupa. Jakarta : Dian Rakyat

Carpenito, L.J. 1998. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktis Klinis. Ed. 6. Jakarta : EGC

Copel, L. 2007. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Jakarta ; EGC

Darmojo, B. 1999. Geriatri. Jakarta: FKUI

Grayson, C. (2004). All about Alzheimer. Retrieved on October 2006 from

Kusuma, W. 1997. Kedaruratan Psikiatri dalam Praktek. Jakarta : Profesional Book’s

Lumbantobing. 2001. Kecerdasan pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta: FKUI

Nurviandari, K. 2007. Mengenal Demensia pada Lanjut Usia. www.komnaslansia.co.id
( 27 Juni 2008)


            Subaidah, M. 2008. Demensia. www.mitrakeluarga.com ( 27 Juni 2008)

            Townsend, M. 1998. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri. Jakarta : EGC

Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. New York:
Springer Publishing Company.

Wilkinson. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria hasil   
NOC. Jakarta : EGC

            Yatim, F. 2003. Pikun ( Demensia) , Penyakit Alzheimer, dan Sejenisnya. Jakarta: Pustaka
Populer Obor

No comments:

Post a Comment